INDRAMAYU – Pemandangan tak biasa terlihat di hamparan sawah Desa JuntiKebon, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, menjelang panen raya. Di tengah kesibukan petani mengejar hasil panen, Pemerintah Desa justru mengedepankan nilai spiritual melalui kebijakan “Tata Tertib Panen” yang mengutamakan ibadah Sholat Jumat.
Lewat baliho besar yang terpasang di pinggir persawahan, Kuwu Wendi bersama Babinsa Purwanto dan Bhabinkamtibmas Rifqi mengimbau petani untuk menghentikan aktivitas ngarit dan gebod setiap hari Jum’at hingga pukul 13.00 WIB.
Kebijakan ini langsung mendapat respons positif dari masyarakat. Warga menilai langkah tersebut sebagai bentuk kepemimpinan yang tidak hanya fokus pada hasil ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Dalam aturan itu ditegaskan, seluruh aktivitas pertanian dihentikan sementara saat waktu Sholat Jumat. Petani baru diperbolehkan kembali bekerja setelah ibadah selesai. Tujuannya jelas: memastikan kewajiban sebagai umat Muslim tetap menjadi prioritas di tengah kesibukan panen.
Tak hanya itu, tata tertib juga mengatur larangan bagi peternak bebek untuk memasuki area persawahan. Langkah ini diambil untuk mencegah potensi konflik yang kerap muncul saat padi mulai menguning dan rentan rusak.
Kuwu JuntiKebon, Wendi—yang akrab disapa Kuwu Dong Iyong—menegaskan bahwa kebijakan ini lahir dari hasil musyawarah bersama BPD, tokoh agama, dan tokoh tani.
“Kami ingin panen di desa ini tidak hanya melimpah, tapi juga berkah. Jangan sampai karena mengejar hasil, kewajiban Sholat Jumat ditinggalkan. Rezeki sudah ada yang mengatur,” ujarnya, Kamis (1/5/2026).
Babinsa Purwanto menambahkan, pihaknya siap mengawal penerapan aturan tersebut agar tetap berjalan kondusif tanpa menimbulkan gesekan di masyarakat.
Senada, Kuwu Wendi kembali menegaskan bahwa prinsip utama kebijakan ini adalah kebersamaan dan keharmonisan.
“Ini untuk kebaikan bersama. Sudah kami rembuk dengan semua unsur desa. Prinsipnya guyub rukun, panen berkah, ibadah tetap jalan,” tegasnya.
Langkah ini dinilai selaras dengan visi pembangunan Kabupaten Indramayu “Indramayu REANG” (Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong). Penekanan pada ibadah mencerminkan nilai religius, sementara perlindungan lahan pertanian dari gangguan ternak menjadi bentuk nyata menjaga ekonomi petani.
Sinergi antara pemerintah desa, TNI, dan Polri juga memperkuat aspek keamanan serta gotong royong di tengah masyarakat.
Inisiatif “Jumat Berkah” ini pun dipandang sebagai contoh kepemimpinan desa yang humanis dan berimbang—menggabungkan produktivitas ekonomi dengan kesadaran spiritual. Sebuah model yang dinilai layak menjadi inspirasi bagi desa-desa lain. (Fif)

