SLEMAN – Pondok Pesantren Makrifatullah Yayasan Kiwari menggelar pengajian pekanan Majelis Makrifatullah di Dusun Banaran RT 02 RW 31, Sendangmulyo, Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (10/5/2026).
Dalam tausiyahnya, Kyai Haji Habibullah mengajak para santri lansia dan jamaah untuk memperbanyak dzikirullah, khususnya pada waktu Subuh yang dinilai sebagai momentum terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa kehidupan manusia sarat dengan tanda-tanda kebesaran Allah, termasuk pergantian siang dan malam. Waktu Subuh, menurutnya, memiliki keutamaan tersendiri untuk diisi dengan ibadah dan doa.
“Waktu Subuh hingga terbit matahari sebaiknya dimanfaatkan untuk berdzikir dan beribadah, bukan untuk tidur kembali. Selain baik bagi kesehatan, juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Kyai Habibullah.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pesan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Kahfi ayat 46, bahwa harta dan anak hanyalah perhiasan dunia. Sementara amal saleh yang kekal memiliki nilai lebih tinggi di sisi Allah SWT.

Kyai Habibullah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik dan diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi, yang bertugas mengelola kehidupan dengan penuh ketakwaan dan akhlak mulia.
Para jamaah juga diajak untuk mengisi waktu setelah salat Subuh dengan kegiatan positif seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta memanjatkan doa demi keselamatan dunia dan akhirat.
“Dzikirullah adalah bentuk eling marang Gusti Allah. Dengan berdzikir, hati menjadi tenang, kesedihan berkurang, dan keimanan semakin kuat,” tambahnya.
Dalam tausiyah tersebut, disampaikan pula berbagai bacaan dzikir utama, seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar, istighfar, Ayat Kursi, serta doa-doa pagi dan petang yang dianjurkan dalam Islam.
Ia menegaskan, dzikir memiliki banyak manfaat, mulai dari menenangkan hati, menghapus kesedihan, hingga meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Membaca Al-Qur’an dengan penghayatan juga diyakini mampu menyentuh hati dan menumbuhkan keikhlasan dalam diri seorang hamba.
Pengajian pekanan Majelis Makrifatullah ini ditutup dengan dzikir dan doa bersama yang berlangsung khidmat. (Ari Wu)

