PURWAKARTA – Sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Barat, Kabupaten Purwakarta terus mencatatkan pertumbuhan investasi dan penyerapan tenaga kerja. Namun, di balik gemerlapnya angka ekonomi tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai kesiapan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat.
Data terbaru menunjukkan bahwa Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2024 baru mencapai 8,14 tahun. Angka ini berarti secara rata-rata, penduduk dewasa di Purwakarta belum menyelesaikan pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau setara 9 tahun pendidikan.
Disparitas Kualifikasi Tenaga Kerja
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purwakarta dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), dari total sekitar 1,06 juta penduduk, hanya 4,53% yang tercatat telah menamatkan pendidikan tinggi (Diploma hingga S-3). Padahal, sebanyak 68,28% penduduk berada dalam kategori usia produktif (15–64 tahun).
Kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat tuntutan industri modern yang tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kasar, melainkan kompetensi teknis, literasi digital, kemampuan pemecahan masalah (problem solving), serta adaptabilitas teknologi.
Ir. Zaenal Abidin, MP., seorang aktivis dan pengamat kebijakan publik yang vokal menyuarakan isu pembangunan manusia, menilai bahwa pertumbuhan industri harus dikonversi menjadi infrastruktur peningkatan kualitas SDM.
“Pertumbuhan industri Purwakarta jangan hanya diukur dari investasi atau jumlah pabrik. Pertumbuhan itu harus menjadi wahana ‘pembobotan’ kualitas SDM masyarakat setempat. Jangan sampai masyarakat lokal hanya terserap pada pekerjaan dengan kompetensi rendah karena keterbatasan kualifikasi,” papar Zaenal Abidin.
Bonus Demografi Bukan Jaminan Produktivitas
Zaenal menekankan bahwa bonus demografi yang dimiliki Purwakarta tidak akan otomatis berubah menjadi bonus produktivitas jika tidak disertai dengan peningkatan kapasitas pendidikan dan pelatihan.
“Saatnya melakukan lompatan inovatif. Industri harus menjadi bagian dari solusi pembangunan manusia, bukan sekadar mesin pencetak laba ekonomi. Jika RLS masih di angka 8,14 tahun dan lulusan perguruan tinggi hanya 4,53%, kita perlu bertanya: Sudahkah kita benar-benar menyiapkan generasi muda Purwakarta untuk berkompetisi?” tegasnya.
Desakan Agenda Strategis Pendidikan
Melihat kondisi tersebut, para pemerhati kebijakan mendesak Pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk menjadikan peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai agenda strategis utama. Kolaborasi antara pemerintah, dunia industri, dan institusi pendidikan diperlukan untuk menciptakan program link and match yang efektif.
Tanpa peningkatan kualitas SDM yang signifikan, dikhawatirkan masyarakat Purwakarta akan tetap menjadi penonton di tengah ramainya aktivitas industri di daerah mereka sendiri, sementara posisi-posisi strategis dan teknis diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah yang memiliki kualifikasi lebih tinggi.
Purwakarta memiliki modal demografi yang besar, namun tantangan ke depannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan daya saing yang nyata di pasar kerja global. (Redaksi)
Sumber Data:
* BPS Kabupaten Purwakarta, “Kabupaten Purwakarta Dalam Angka 2025”
* Disdukcapil Kabupaten Purwakarta, “Profil Perkembangan Kependudukan 2024”
* SIBADEKSA Pemkab Purwakarta, Data Rata-Rata Lama Sekolah 2020–2024

