INDRAMAYU – Pelaksanaan proyek rekonstruksi jalan ruas Simpang (SP.) Gadingan–Segeran di Kabupaten Indramayu menuai pujian dari kalangan masyarakat sipil. LSM Aliansi Masyarakat Nusantara (AMN) DPD Kabupaten Indramayu memberikan apresiasi positif terhadap kinerja kontraktor CV. Generasi Muda Karya yang dinilai konsisten menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta menjaga mutu konstruksi.
Ketua DPD AMN Indramayu, HD. Sumantri, usai melakukan pemantauan langsung di lokasi proyek pada Jumat (30/5/2026), menilai sinergi antara Mandor Pelaksana, Ujang, dan Pengawas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Saeful, menjadi kunci keberhasilan proyek senilai Rp1,319 miliar ini.
“Kami dari LSM AMN DPD Kabupaten Indramayu memberikan apresiasi tinggi. Sejak awal pelaksanaan 5 Mei 2026, proyek ini langsung memasang papan K3 dan rambu peringatan lengkap. Ini bukti bahwa Mandor Ujang di lapangan dan Pengawas Saeful dari DPUPR sama-sama serius soal keselamatan kerja,” tegas HD. Sumantri.
Disiplin K3 dan Mutu Beton Terjamin
Aspek K3 menjadi sorotan utama dalam pengawasan LSM. Di bawah koordinasi Mandor Ujang, seluruh pekerja terlihat disiplin menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, mulai dari helm, rompi reflektif, sepatu safety, hingga sarung tangan. Papan informasi K3 berukuran besar serta rambu peringatan delapan poin juga terpasang di titik-titik strategis untuk mengingatkan pengguna jalan dan pekerja.
Pengawas PUPR, Saeful, dilaporkan rutin melakukan pengecekan kepatuhan K3 setiap pagi. Hal ini bertujuan memastikan budaya selamat menjadi kebiasaan harian, bukan sekadar formalitas administratif.
Dari sisi teknis, HD. Sumantri menilai kolaborasi antara pelaksana dan pengawas berjalan sangat baik. Pekerjaan rigid pavement (beton keras) dengan dimensi 570 meter x 4 meter x 20 cm dikerjakan sesuai gambar rencana.
“Kami melihat plastik cor terpasang rapi, bekisting kuat, dan pemasangan besi dowel diameter 22 mm sesuai jarak spesifikasi. Mandor Ujang juga secara terbuka menjelaskan tiap tahapan pekerjaan kepada kami. Sementara Pengawas Saeful langsung melakukan uji slump setiap kali truk ready mix datang. Beton yang digunakan bertipe K-300, yang menjamin kekuatan dan ketahanan jalan,” ujarnya.
Manajemen Waktu Efektif, Dampak Sosial Minim
Proyek dengan target penyelesaian 120 hari kalender atau hingga 1 September 2026 ini juga menunjukkan kontrol waktu yang ketat. Target pengecoran sebesar 4 meter kubik per hari dijaga dengan disiplin. Jika terjadi kendala cuaca atau keterlambatan material, Mandor Ujang dan Pengawas Saeful segera berkoordinasi mencari solusi di lapangan tanpa menunda progres signifikan. Cara kerja responsif ini dinilai AMN efektif mencegah keterlambatan (molor) proyek.
Dampak sosial terhadap warga sekitar juga berhasil diminimalisir. Atas arahan Mandor Ujang, akses jalan bagi warga tetap dibuka dengan pengaturan lalu lintas yang jelas melalui rambu pengalihan. Penyiraman air untuk meredam debu juga dilakukan secara rutin. Pengawas Saeful turut memastikan tidak ada keluhan dari masyarakat terkait aktivitas proyek.
“Tidak ada komplain yang masuk kepada kami. Artinya, pelaksana dan pengawas sama-sama menghargai keberadaan masyarakat sekitar proyek,” tambah HD. Sumantri.
HD. Sumantri berharap sinergi positif antara Mandor Pelaksana Ujang dan Pengawas PUPR Saeful dapat terjaga hingga proyek selesai. Ia menekankan bahwa anggaran APBD 2026 sebesar Rp1,31 miliar harus menghasilkan infrastruktur yang bermanfaat jangka panjang, khususnya bagi para petani di Kecamatan Sliyeg.
“Jika semua proyek APBD memiliki pelaksana dan pengawas yang sekompak dan setertib ini, masyarakat pasti akan merasa puas. LSM AMN akan terus mengawal proses ini hingga serah terima,” pungkasnya. (Fif)

