BUOL – Anggota DPRD Kabupaten Buol dari Fraksi Partai NasDem, I Wayan Gara, menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam menjaga toleransi, persatuan, dan kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan talk show penguatan moderasi beragama yang merupakan kerja sama Kementerian Agama Kabupaten Buol dengan Radio Republik Indonesia (RRI). Kegiatan berlangsung di Kantor RRI Buol, Jalan A.B. Timumun, Kelurahan Kali, Kecamatan Biau, Sabtu (16/5/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan umat beragama di Kabupaten Buol.
Dalam forum itu, I Wayan Gara menyoroti Desa Modo, Kecamatan Bukal, sebagai contoh nyata keberhasilan penerapan moderasi beragama. Ia menyebut desa tersebut sebagai representasi kehidupan multikultural yang harmonis.
“Desa Modo bisa dikatakan miniatur Indonesia. Berbagai suku seperti Bali, Flores, Lombok, Bugis, Gorontalo hingga Toraja hidup berdampingan dengan latar belakang agama Hindu, Islam, Protestan, dan Katolik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada masa awal transmigrasi di tahun 1990-an, interaksi sosial masyarakat masih terbatas. Namun seiring waktu, solidaritas dan rasa kebersamaan tumbuh kuat, hingga membentuk hubungan sosial yang harmonis.
Menurutnya, dialog lintas agama menjadi kunci utama dalam membangun toleransi.
“Toleransi tidak datang dengan sendirinya. Ia harus digerakkan, disampaikan, dan diamalkan. Peran generasi muda sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial di masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pemuda lintas agama di Desa Modo aktif dalam organisasi seperti Karang Taruna dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan tanpa memandang perbedaan keyakinan.
“Ketika umat Muslim menggelar kegiatan keagamaan, pemuda Hindu ikut membantu. Sebaliknya, saat umat Hindu beribadah, masyarakat Muslim turut menjaga keamanan. Ini bukti bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep, tetapi sudah menjadi praktik nyata,” jelasnya.
Selain memperkuat toleransi, moderasi beragama juga dinilai berperan dalam pelestarian budaya dan memperkokoh persatuan daerah. Hal ini terlihat dari inisiatif generasi muda Desa Modo yang memadukan berbagai unsur seni budaya lintas etnis dalam perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Buol.
Sebagai legislator, I Wayan Gara menegaskan komitmennya untuk terus mendorong dukungan pemerintah terhadap program moderasi beragama, termasuk penguatan kapasitas pemuda lintas agama serta penyediaan sarana kegiatan sosial dan budaya.
“Kerukunan tidak menuntut kesamaan, tetapi kesadaran untuk hidup berdampingan secara harmonis. Nilai inilah yang harus terus dijaga demi memperkuat persatuan masyarakat,” pungkasnya. (Moh Fharsi)

