INDRAMAYU – Energi baru pemuda Desa Limbangan resmi menyala. Rasono, Ketua Karang Taruna Cerdas Berkarya periode 2026–2031, langsung tancap gas dengan seruan tegas: pemuda harus bergerak nyata, bukan sekadar nama dalam struktur.
Pelantikan yang digelar di Sekretariat Karang Taruna Cerdas Berkarya, Rabu (13/05/2026), menjadi momentum kebangkitan peran pemuda desa. Puluhan perwakilan dari berbagai blok, RT, dan RW hadir, menandai awal konsolidasi besar generasi muda Limbangan.
“Karang Taruna tidak boleh hanya eksis di atas kertas. Kita harus hadir di tengah persoalan warga—dari sosial, lingkungan, hingga ekonomi,” tegas Rasono dalam pidato perdananya yang disambut antusias.
Ia menegaskan, 100 hari pertama kepemimpinannya akan difokuskan pada program prioritas berbasis kebutuhan riil masyarakat. Targetnya jelas: menghadirkan dampak nyata, bukan sekadar wacana.
“Kami ingin jadi motor solidaritas dan ruang kolaborasi lintas generasi. Pemuda harus jadi solusi, bukan penonton,” ujarnya lantang.
Dukungan penuh datang dari Kuwu Desa Limbangan, H. Nurwenda. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya persatuan dan mengakhiri ego sektoral yang kerap menghambat kemajuan desa.
“Tidak ada waktu untuk konflik. Limbangan butuh energi kebersamaan. Karang Taruna adalah mesin perubahan, bukan arena persaingan,” tegasnya.
Nurwenda juga menyoroti peran kritis pemuda yang diharapkan konstruktif, bukan destruktif.
“Kami butuh pemuda yang mengawasi dengan solusi, bukan sekadar menghujat tanpa arah,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Karang Taruna Kecamatan dan Kabupaten Indramayu menegaskan bahwa organisasi ini memiliki landasan hukum kuat melalui Permendagri No. 18 Tahun 2018 dan Permensos No. 9 Tahun 2025. Regulasi ini mempertegas posisi Karang Taruna sebagai garda depan pemberdayaan pemuda dan penanggulangan masalah sosial di desa.
Kini, di bawah komando Rasono, Karang Taruna Limbangan memikul ekspektasi besar: hadir nyata, menggali potensi ekonomi lokal, serta membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak.
Pesan penutup dari Kuwu menjadi tamparan sekaligus motivasi:
“Jangan hanya eksis. Jadilah berpengaruh.”
Limbangan menunggu bukti, bukan janji. Pemuda bergerak, atau tertinggal. (Fif)

