SLEMAN – Menjelang perayaan Idul Adha 2026, arus masuk hewan kurban ke Kabupaten Sleman mengalami lonjakan signifikan. Pemerintah setempat pun memperketat pengawasan guna memastikan seluruh ternak dalam kondisi sehat dan layak dikurbankan.
Dinas terkait mencatat, terdapat sekitar 549 kandang kelompok ternak binaan, dengan 477 kandang aktif yang menjadi tulang punggung pasokan sapi potong untuk kebutuhan kurban masyarakat.
Pengawasan dilakukan secara intensif melalui kunjungan lapangan dan layanan terpadu kesehatan hewan (Yanduwan). Petugas dari puskeswan, pengawas bibit ternak, serta pengawas mutu pakan bersinergi dengan penyuluh pertanian untuk memastikan kondisi ternak tetap prima sejak di tingkat peternak.
Tak hanya di kandang, pengawasan juga diperketat di sejumlah pasar hewan. Tim dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama petugas puskeswan rutin melakukan pemantauan, terutama pada hari pasaran Pahing.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang hingga kini belum sepenuhnya nol kasus, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Antraks.
Pemerintah juga terus menggencarkan vaksinasi PMK sebagai langkah preventif. Setiap ternak yang masuk diperiksa secara ketat, mulai dari kondisi fisik hingga kelengkapan dokumen asal-usulnya.
Hewan kurban yang beredar di pasar Sleman berasal dari berbagai daerah, seperti Muntilan, Magelang, Gunungkidul, Temanggung, Wonosobo, hingga Klaten. Untuk sapi, sebagian besar dipasok dari wilayah sekitar seperti Gunungkidul, Kulon Progo, dan Magelang.
Salah satu titik utama perputaran ternak, Pasar Hewan Ambarketawang, dilaporkan mengalami peningkatan signifikan jumlah ternak yang masuk. Lonjakan ini seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Idul Adha.
Pemerintah memastikan, seluruh hewan yang diperjualbelikan telah melalui pemeriksaan ketat, sehingga masyarakat dapat berkurban dengan aman dan tenang. (Ari Wu)

