INFOTIPIKOR.COM | SLEMAN – Suasana khidmat menyelimuti kegiatan pengajian pekanan Majelis Makrifatullah yang digelar di Pondok Pesantren Makrifatullah, Yayasan Kiwari (Masjid Jamilah), Dusun Banaran RT 02 RW 31 Sendangmulyo, Minggir, Sleman pada Ahad (01/03/2026).
Pengajian rutin ini menjadi wadah silaturahmi, sekaligus sarana memperdalam ilmu agama bagi masyarakat sekitar.
Dipimpin langsung oleh Kyai Haji Habibullah, kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan ceramah, tetapi juga diskusi dan pembelajaran bersama yang membangun kesadaran spiritual jamaah Majelis Nakrifatullah yayasan Kiwari Sleman Yogyakarta.
Majelis sebagai Tempat Belajar dan Introspeksi
Dalam tausiyahnya, Kyai Haji Habibullah, menegaskan bahwa Majelis Makrifatullah bukan sekadar agenda rutin mingguan, melainkan ruang untuk belajar memahami makna hidup secara lebih mendalam. Ia mengajak jamaah untuk tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga menghadirkan hati dan pikiran dalam setiap pembelajaran.
Beliau memberikan perumpamaan tentang seekor anjing yang selalu taat kepada tuannya. Bahkan, anjing terlatih dapat membantu aparat kepolisian dalam melacak pelaku kejahatan maupun mencari barang bukti narkotika lewat indra penciumannya
Dari contoh tersebut jamaah diajak meneladani sikap disiplin, kesetiaan, dan ketaatan. Jika hewan saja mampu patuh kepada tuannya, maka manusia seharusnya lebih mampu taat kepada Allah SWT sebagai Pencipta.
Memahami Waktu dan Siklus Kehidupan
Dalam kesempatan itu, Kyai Haji Habibullah, juga menyinggung tentang Pranoto Mongso, sistem penanggalan musim dalam tradisi Jawa. Saat ini, menurut penjelasannya, memasuki mongso ke-9 dengan jangka waktu sekitar 25 hari.
Ia mendorong jamaah untuk mempelajari mongso-mongso lainnya sebagai bentuk memahami kearifan lokal yang selaras dengan pengamatan terhadap alam.
Menurutnya, memahami waktu dan perubahan musim dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia pun berjalan dalam siklus. Setiap fase memiliki waktunya sendiri dan tidak akan terulang kembali.
Kesadaran Usia dan Kematian
Kyai Haji Habibullah, mengingatkan bahwa setiap manusia menjalani tahapan kehidupan, mulai dari bayi, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Jika seseorang diberi umur panjang, misalnya mencapai 50 tahun atau lebih, maka sejatinya ia semakin mendekati akhir kehidupan.

“Manusia harus belajar memahami usia kehidupannya. Jangan sampai waktu habis hanya untuk hal yang sia-sia,” pesannya.
Beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak amal saleh dan tidak menunda kebaikan. Sikap gemar berdebat, membanggakan diri, atau sekadar mengejar kepuasan duniawi tanpa bekal akhirat, menurutnya, dapat menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya.
Teladan dari Tokoh dan Al-Qur’an
Dalam ceramahnya, beliau juga mengutip nilai-nilai dari Surah An-Nazi’at yang mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allah dan kepastian hari akhir. Selain itu, ia menyelipkan pesan melalui tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Petruk, Gareng, dan Togog. Tokoh-tokoh tersebut melambangkan kebijaksanaan, kerendahan hati, serta keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun.
Melalui pendekatan budaya dan agama, jamaah diajak lebih mudah memahami pesan moral dan spiritual yang disampaikan.
Tiga Golongan Manusia
Kyai Haji Habibullah, menjelaskan bahwa secara garis besar manusia terbagi menjadi tiga golongan:
Mereka yang hidup hanya untuk kepentingan dunia. Mereka yang menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.
Mereka yang sepenuhnya berorientasi pada akhirat. Menurutnya, pilihan terbaik adalah hidup dengan keseimbangan, menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanam amal demi kebahagiaan akhirat.
Mengamalkan Doa Sapu Jagat
Sebagai penutup, jamaah diajak untuk rutin membaca Doa sapu jagat yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Doa tersebut dikenal sebagai doa yang ringkas namun mencakup permohonan kebaikan secara menyeluruh, baik urusan dunia seperti kesehatan, rezeki, dan ilmu, maupun keselamatan di akhirat.
Pesan Moral untuk Jamaah
Menutup pengajian, Kyai Haji Habibullah, berpesan agar jamaah senantiasa menahan hawa nafsu, memperkuat keimanan, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ia menekankan bahwa keberkahan dan kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada hati yang dekat dengan Allah SWT.
Pengajian pekanan Majelis Makrifatullah ini diharapkan terus menjadi sarana pembinaan akhlak dan peningkatan spiritual masyarakat, sehingga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan dan siap menghadapi kehidupan dunia maupun akhirat.(Ari Wu)

