MOROWALI, Opini Oleh: Firdaus Madanua – Pulau Menui, yang secara administratif berada di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, kini menghadapi ancaman serius yang tidak bisa lagi dianggap sepele: penyalahgunaan narkoba.
Letak geografis yang jauh dari Bungku sebagai ibu kota kabupaten menjadi salah satu faktor yang memperlambat respons penanganan berbagai persoalan sosial, termasuk peredaran gelap narkotika.
Dalam beberapa waktu terakhir, keresahan masyarakat kian meningkat. Peredaran narkoba jenis sabu mulai terindikasi masuk dan menyebar di sejumlah desa. Jika tidak segera ditangani secara serius dan terstruktur, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi krisis sosial yang lebih luas.
Narkoba bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah ancaman nyata yang mampu merusak generasi muda, menghancurkan masa depan keluarga, serta melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pulau Menui tidak boleh dibiarkan menjadi lahan subur bagi peredaran barang haram ini.
Dibutuhkan langkah luar biasa untuk menghadapi situasi ini. Kampanye masif anti narkoba harus segera digencarkan, dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh pemuda, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum harus berdiri dalam satu barisan, “Melawan narkoba tanpa kompromi”.
Selain itu, penguatan pengawasan wilayah, peningkatan edukasi bahaya narkoba, serta pembentukan jaringan pelaporan masyarakat menjadi kunci dalam memutus rantai peredaran.
Tidak kalah penting, keberanian masyarakat untuk bersuara dan melapor harus terus didorong tanpa rasa takut.
“Ini bukan hanya tugas aparat, ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jika kita diam, maka kita sedang membiarkan generasi kita hancur perlahan,” tegas Firdaus Madanua, tokoh pemuda asal Menui Kepulauan.
Kini saatnya seluruh masyarakat Pulau Menui bangkit dan bergerak. Jangan diam. Jangan takut. Lawan narkoba bersama.
Selamatkan generasi, selamatkan masa depan Pulau Menui. (Redaksi)

