INDRAMAYU – Suasana mencekam terjadi di RT 08 RW 03 Desa Limbangan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Warga setempat mengaku tidak bisa tidur nyenyak selama tiga malam berturut-turut akibat kebisingan dan getaran hebat dari proyek Gas Terminal (GT) milik PT. Polytama Propindo yang beroperasi di laut Limbangan.
Fakta ini terungkap saat Tim Infotipikor.com Biro Indramayu turun langsung ke lokasi pada Jumat (1/9/2026). Di lapangan, terlihat dinding rumah warga mengalami retak parah dan terus bergetar setiap malam, terutama pada pukul 21.00 hingga 04.00 WIB akibat suara alat berat offshore yang beroperasi 24 jam.
Ibu-Ibu Ngamuk, Anak-Anak Trauma
Dampak psikologis dan fisik sangat terasa bagi para ibu rumah tangga. Ibu Saniri dan Ibu Kaisah (54) mengungkapkan kekesalan mereka di teras rumah. “Cucu saya sering terbangun dan menangis ketakutan. Anak-anak juga tidak bisa belajar karena suara ‘jedag-jedug’ dari alat berat,” keluh Ibu Saniri.
Ibu Kaisah menambahkan, “Saya sudah 54 tahun tinggal di Limbangan, baru kali ini tidur tidak nyenyak. Kalau perahu suami saya tidak bisa melaut karena akses baro tertutup lumpur proyek, kami mau makan apa? Dapur jadi tidak ngebul.”
Nelayan Kehilangan Mata Pencaharian
Selain gangguan tempat tinggal, nelayan lokal juga menanggung kerugian ekonomi yang besar. Hasil tangkapan ikan dilaporkan anjlok hingga 70 persen. Wilayah tangkap hilang, dan akses jalur laut (baro) yang menjadi urat nadi perahu nelayan tertutup oleh lumpur hasil pengerukan proyek.
Somasi Terbuka dan Ultimatum 7×24 Jam
Tak tahan hanya menjadi penonton di lautnya sendiri, tiga lembaga masyarakat Desa Limbangan melayangkan Somasi Terbaya bernomor 01/SOMASI/3-LEMBAGA/LMBGN/IX/2026. Somasi ini ditandatangani oleh:
1. Rasono, Ketua Karang Taruna Cerdas Berkarya;
2. Tohadi, Ketua KPL Mina Sejati Jaya;
3. Istamar A.T., Ketua Gerakan Peduli Limbangan (GPL).
Ketua KPL Mina Sejati Jaya, Tohadi, menegaskan, “Kami nelayan Limbangan yang paling merasakan dampaknya. Kami minta kompensasi yang jelas, akses baro diperbaiki, dan kami dilibatkan kerja di proyek. Jangan kami hanya jadi penonton di laut kami sendiri.”
Sementara itu, Ketua Karang Taruna, Rasono, memberikan ultimatum keras terkait penggunaan tenaga kerja lokal. “Ironis kalau perahu ojekan pengantar pekerja diambil dari Majakerta, bukan dari pemuda Limbangan. Kalau dalam 7×24 jam tidak ada tanggapan, kami akan aksi damai setop total perahu pengantar pekerja,” ancamnya.
Tuntutan Kompensasi dan CSR
Ketua GPL, Istamar A.T., menambahkan bahwa dampak proyek ini dirasakan seluruh warga. “Kebisingan alat berat dari jam 9 malam sampai jam 4 pagi bikin warga tidak bisa istirahat. Kami menuntut kompensasi untuk setiap rumah dan hak mengelola dana CSR,” ujarnya.
Somasi tersebut telah diteruskan ke 17 instansi terkait, termasuk Kantor Staf Presiden (KSP) RI, Kementerian LHK, KKP, SKK Migas, Gubernur Jawa Barat, Bupati Indramayu, Kapolres Indramayu, hingga Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT. Polytama Propindo, PT. Adhi Karya, dan PT. PDP belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan serius warga Desa Limbangan tersebut. (Fif)

