PURWAKARTA – Di tengah maraknya kegiatan sosial partai politik menjelang hari suci, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kabupaten Purwakarta memiliki ciri khas yang konsisten: nasi kuning selalu menjadi menu andalan dalam setiap agenda “Jumat Berkah”. Pilihan ini bukan tanpa alasan, melainkan perpaduan antara nilai filosofi, kearifan lokal, dan strategi komunikasi politik yang humanis.
Ketua DPD Golkar Purwakarta, Anne Ratna Mustika, yang diwakili oleh Ketua Harian Lalam Martakusuma, menjelaskan kepada awak media bahwa pemilihan nasi kuning didasarkan pada simbolisme yang kuat dalam budaya Sunda dan masyarakat Purwakarta secara umum.
“Nasi kuning itu identik dengan rasa syukur, kebahagiaan, dan keberkahan. Dalam tradisi kita, nasi kuning tidak pernah disajikan sembarangan; ia selalu hadir di momen-momen penting seperti selamatan, pernikahan, atau hajatan. Ketika kami membagikannya di Jumat Berkah, pesan yang ingin kami sampaikan adalah: kehadiran Golkar di tengah rakyat adalah bentuk rasa syukur dan doa agar masyarakat senantiasa diberi kebahagiaan,” ujarnya saat ditemui usai pembagian nasi kotak di depan Sekretariat DPD Golkar Purwakarta.
Pertimbangan Praktis dan Higienitas
Selain faktor simbolis, pertimbangan praktis juga menjadi dasar keputusan ini. Nasi kuning dikenal tahan lama dan tidak mudah basi meski disimpan beberapa jam, serta rasanya disukai lintas generasi—mulai dari anak-anak hingga lansia. Hal ini memastikan makanan yang dibagikan benar-benar layak konsumsi dan dinikmati, bukan sekadar formalitas bagi-bagi bantuan.
“Kami tidak ingin memberi makanan yang asal-asalan. Nasi kuning itu ‘aman’ dari segi higienitas dan cita rasa. Ini bentuk penghormatan kami kepada penerima manfaat. Mereka berhak mendapatkan yang terbaik, bukan sisa-sisa,” tegas Lalam Martakusuma.
Dari sisi kearifan lokal, nasi kuning juga merepresentasikan identitas Purwakarta sebagai daerah yang kaya akan kuliner tradisional. Dengan menyajikan menu ini, Golkar menunjukkan bahwa mereka tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga memahami dan menghargai budaya masyarakat yang dilayani.
“Politik itu soal koneksi. Dan koneksi terkuat dibangun lewat hal-hal yang akrab di hati rakyat. Nasi kuning adalah bahasa cinta yang dimengerti semua orang di Purwakarta,” tambahnya.
Respon Positif Warga
Respon warga terhadap program ini terbilang positif. Banyak penerima manfaat yang mengaku merasa lebih dihargai karena mendapat menu spesial, bukan nasi putih biasa dengan lauk seadanya.
“Biasanya kalau dapat bingkisan ya nasi putih sama lauk seadanya. Tapi ini nasi kuning, lengkap dengan abon dan telur dadar. Terasa banget perhatiannya,” ucap Mahesa, salah satu penerima manfaat di lokasi pembagian.
Kegiatan Jumat Berkah dengan menu nasi kuning ini rencananya akan terus dipertahankan sebagai program rutin DPD Golkar Purwakarta. Bagi partai berlambang pohon beringin ini, nasi kuning bukan sekadar hidangan, melainkan medium penyampai nilai-nilai kepedulian yang tulus dan berakar pada budaya lokal. (Redaksi)

