YOGYAKARTA – Filosofi dan kearifan lokal Yogyakarta didorong untuk memasuki ruang baru melalui pengembangan ilmu manajemen. Gagasan inovatif ini dikembangkan oleh Dr. R. Andreas Ari Sukoco, SE, MM, M.Min, dosen Manajemen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), melalui seri buku bertajuk “Manajemen Hamemayu Hayuning Bawana”.
Seri buku tersebut dirancang untuk mengembangkan perspektif manajemen dengan menjadikan filosofi Yogyakarta sebagai sumber inspirasi sekaligus landasan pemikiran. Upaya ini diharapkan dapat mempertemukan kekayaan nilai budaya lokal dengan konsep serta tantangan manajemen modern.
Dari Filosofi Budaya Menjadi Ilmu Terapan
Konsep Hamemayu Hayuning Bawana mengandung gagasan mengenai upaya memperindah, menjaga, dan menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik. Dalam seri buku ini, nilai tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai warisan budaya statis, tetapi dikaji sebagai sumber pengetahuan yang relevan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan organisasi di tengah perubahan zaman.
Andreas menekankan bahwa pengembangan ilmu manajemen tidak harus selalu bertumpu pada teori-teori yang lahir dari Barat. Nilai-nilai lokal memiliki potensi besar untuk membangun pendekatan manajemen yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia.
“Kearifan lokal dan filosofi budaya asli kita memberi banyak inspirasi bagi pengembangan ilmu manajemen. Seri ini berupaya menjembatani nilai-nilai budaya dengan konsep manajemen modern dan penerapannya dalam berbagai bidang,” ujar Andreas.
Delapan Bidang Manajemen Disiapkan
Selain buku induk “Manajemen Hamemayu Hayuning Bawana”, Andreas menyiapkan sejumlah buku turunan yang mengangkat nilai-nilai filosofi Yogyakarta ke dalam delapan bidang spesifik, yaitu:
1. Manajemen Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Filosofi Yogyakarta
2. Manajemen SDM Berbasis Nilai Pamenthanging Gandewa, Pamenthenging Cipta
3. Manajemen Kepemimpinan Berbasis Nilai Hamangku, Hamengku, Hamengkoni
4. Manajemen Strategi Berbasis Nilai Pamenthanging Gandewa, Pamenthenging Cipta
5. Kewirausahaan Berbasis Nilai Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh
6. Koperasi Berbasis Nilai Golong Gilig
7. Manajemen Pariwisata Berbasis Budaya
8. Manajemen Pendidikan Berbasis Nilai Mangasah Mingisig Budi, Memasuh Malaning Bhumi
Ragam tema ini menunjukkan luasnya ruang penerapan filosofi Yogyakarta, mulai dari kepemimpinan, strategi organisasi, hingga pariwisata dan pendidikan.
Didukung Lintas Sektor dan Resmi Diluncurkan di Museum Sonobudoyo
Pengembangan seri buku ini mendapat dukungan kuat dari berbagai kalangan, termasuk pakar Keistimewaan Yogyakarta Dr. Haryadi Baskoro, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa (Ketua Dewan Pendidikan DIY), Prof. Dr. Sudaryono, dan Dr. Wing Wahyu Winarno. Dukungan juga datang dari Pemerintah Daerah DIY melalui Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi Pratiwi, MA, serta Kurniawan dari Paniradya Kaistimewan DIY.
Momentum awal pengkaryaan seri buku tersebut digelar bertepatan dengan peringatan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY. Kick-off berlangsung dalam kegiatan “Sinau Sareng Relevansi Nilai-nilai Keistimewaan DIY di Masa Kini” yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, pada Senin (7/9/2026).
Acara tersebut dihadiri sekitar 80 mahasiswa dan pemuda dari berbagai wilayah di DIY. Keterlibatan generasi muda dinilai penting untuk memastikan nilai-nilai Keistimewaan DIY terus dikontekstualisasikan sehingga tetap relevan dalam menghadapi persoalan masa kini.
Budaya Hidup Melalui Reinterpretasi Ilmiah
Keterlibatan lintas sektor dalam proyek ini memperlihatkan bahwa gagasan manajemen berbasis budaya bukan sekadar proyek akademik, melainkan ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, kebudayaan, pemerintahan, dunia usaha, dan masyarakat.
Andreas berharap, jika dikembangkan secara konsisten, seri buku ini dapat memperkaya khazanah ilmu manajemen dengan perspektif yang berangkat dari nilai-nilai Indonesia. Pelestarian budaya, menurutnya, tidak harus berhenti pada mempertahankan bentuk tradisi masa lalu, tetapi dapat terus hidup melalui proses reinterpretasi dan penerapannya dalam kehidupan modern.
“Dari Yogyakarta, filosofi Hamemayu Hayuning Bawana kini didorong untuk memasuki ruang yang lebih luas: ilmu manajemen, pendidikan, dunia usaha, pemerintahan, hingga pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya. (Ari Wu)

