SLEMAN – Suasana religius dan penuh kekhidmatan mewarnai pengajian rutin Majelis Makrifatullah bagi para lansia yang digelar di Pondok Pesantren Makrifatullah (Masjid Jamilah), Dusun Banaran RT 02/RW 31, Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, pada Ahad (6/9/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum berharga bagi para jamaah untuk sinau bareng (belajar bersama), memperdalam ilmu agama, serta mengingatkan kembali pentingnya memanfaatkan sisa usia dengan amal ibadah yang bermanfaat.
Haji Habibullah: Waktu Tidak Akan Kembali
Pengajian kali ini menghadirkan Kyai Haji Habibullah sebagai narasumber utama. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk senantiasa menggunakan waktu sebaik-baiknya, mengingat setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.
“Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Maka, sebaik-baik kehidupan adalah ketika waktu yang diberikan Allah diisi dengan ilmu, ibadah, dan kemanfaatan,” ujar Haji Habibullah.
Ia menekankan bahwa manusia diberikan kesempatan 24 jam dalam sehari, sehingga harus diisi dengan kegiatan bernilai positif seperti belajar, beribadah, berdzikir, dan mendalami kandungan Al-Qur’an.
Memperkuat Tauhid Melalui “La Ilaha Illallah”
Materi kajian merujuk pada QS Muhammad ayat 19, yang menegaskan tentang keesaan Allah SWT serta anjuran untuk memohon ampunan. Haji Habibullah memberikan penekanan khusus terhadap kalimat “La Ilaha Illallah” sebagai landasan utama keimanan.
Menurutnya, kalimat tauhid tersebut tidak sekadar diucapkan secara lisan, tetapi harus tertanam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dzikir ini dapat diintegrasikan dalam berbagai aktivitas keagamaan seperti tahlilan, yasinan, sholawatan, maupun pengajian.
“Lisan yang berdzikir adalah pengingat bagi hati. Ketika hati selalu mengingat Allah, langkah kehidupan diharapkan semakin terarah,” jelasnya.
Para jamaah diajak untuk membiasakan membaca kalimat tauhid secara ajeg dan kontinu, terutama setelah salat lima waktu serta dalam aktivitas harian lainnya.
Hidup Bukan Sekadar Menghitung Waktu
Haji Habibullah juga menyampaikan pesan mendalam bahwa kehidupan bukan sekadar tentang lamanya seseorang hidup, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dapat ditebarkan.
“Panjang umur belum tentu berarti panjang manfaat. Yang terpenting adalah bagaimana umur yang diberikan Allah menjadi jalan untuk menebar kebaikan,” tuturnya.
Dalam konteks praktis, ia mencontohkan pentingnya ketelitian dan evaluasi dalam setiap pekerjaan, termasuk dalam hal keamanan pangan. Prinsip kehati-hatian dari bahan mentah hingga penyajian makanan dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dan upaya meminimalisir kesalahan.
“Kebaikan membutuhkan ketelitian. Apa yang dikerjakan dengan hati-hati akan lebih dekat kepada kemanfaatan,” tambahnya.
Menjadikan Dzikir sebagai Kebiasaan
Di penghujung acara, Haji Habibullah mengingatkan jamaah untuk menjadikan dzikir sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
“Jangan menunggu hati tenang untuk berdzikir. Berdzikirlah agar hati menemukan ketenangan,” pungkasnya.
Kegiatan pengajian berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan perhatian. Acara ditutup dengan doa bersama serta pembacaan kalimat “La Ilaha Illallah” sebanyak tiga kali secara serentak oleh seluruh jamaah (Ari Wu)

