BIREUEN – Institut Teknologi Bandung (ITB) terus menunjukkan komitmennya dalam membantu pemulihan masyarakat pascabencana. Kali ini, tim pengabdian masyarakat ITB melaksanakan pelatihan pembentukan model penanganan pascabencana di Kabupaten Bireuen, Aceh, pada 3—4 Agustus 2026. Kegiatan ini diketuai oleh RR Sri Wachyuni, M.Psi., dan melibatkan kolaborasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat.
Kegiatan ini merupakan respons terhadap kebutuhan masyarakat Bireuen yang masih mengalami kesulitan pemulihan pasca-banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada tahun 2025. Selain kerusakan fisik, para penyintas juga menghadapi goncangan mental dan kesehatan fisik akibat terputusnya aktivitas sehari-hari selama masa pengungsian.
Tantangan Koordinasi dan Kesiapan Mental
Sebelum pelatihan dilaksanakan, tim ITB melakukan pemetaan awal terhadap 20 responden dari kalangan petugas dan pengurus OPD. Hasilnya menunjukkan bahwa koordinasi antarlembaga dan kesiapan mental petugas masih menjadi tantangan utama. Hambatan lain yang diidentifikasi meliputi keterbatasan logistik, sumber daya manusia, serta akses ke daerah bencana yang sulit.
Menyadari hal tersebut, OPD dilibatkan sebagai mitra strategis karena memiliki tanggung jawab langsung dalam mitigasi bencana, pelayanan dasar, hingga pengelolaan pengungsian.
Pendekatan Holistik: Psikologi, Bahasa, dan Teknologi
Pelatihan ini mengusung pendekatan integratif yang menggabungkan aspek psikososial, kesehatan, dan teknologi digital. RR Sri Wachyuni menyampaikan materi Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama pada Gangguan Jiwa. Materi ini dirancang agar para first responder dapat mengurangi pengalaman traumatis penyintas, menguatkan fungsi adaptif, dan mempercepat proses pemulihan dengan membuat penyintas merasa aman dan didengar.
Dari sisi komunikasi, Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., dan Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., memberikan wawasan tentang pentingnya penggunaan bahasa dan diksi yang tepat dalam pendampingan psikologis. Mereka menekankan bahwa bahasa yang terlalu teoretis atau rumit dapat menyulitkan penyintas untuk memahami langkah pemulihan, sehingga diperlukan pendekatan yang empatik dan mudah dicerna.
Pemanfaatan AI untuk Edukasi Kesehatan
Aspek teknologi juga menjadi sorotan utama dalam pelatihan ini. Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, MSi., memperkenalkan pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dan digitalisasi untuk swamedikasi. AI dimanfaatkan sebagai media edukasi dan penyedia informasi awal yang akurat sebelum penyintas mendapatkan layanan kesehatan profesional.
Sementara itu, Andi Muhammad Yuandana Putra C., S.T., M.B.A., menjelaskan peran Sistem Komunikasi Digital dan AI dalam menyajikan informasi secara visual yang lebih interaktif. Hal ini bertujuan agar informasi bencana tidak terasa kaku dan menekan kondisi psikis masyarakat, melainkan lebih mudah dipahami dan menenangkan.
Harapan Berkelanjutan
Melalui integrasi pengetahuan psikososial, kesehatan mental, dan komunikasi digital ini, ITB berharap dapat menciptakan model penanganan pascabencana yang sistematis dan berkelanjutan. Model ini diharapkan dapat diadopsi oleh OPD di Bireuen untuk memastikan kebutuhan fisik dan psikologis penyintas tertangani secara profesional, sekaligus memperluas akses terhadap informasi kesehatan yang cepat dan tepat. (Coach Adi)

