INFOTIPIKOR.COM | BANDUNG – Daya tarik yang mendorong “swarming” bisa berasal dari berbagai sektor. Mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan dan aktivitas berkarya. Dalam konteks tersebut, Kota Bandung sejak awal memang dibangun sebagai pusat pergerakan.
Hal itu disampaikan Farhan saat memberikan sambutan pada acara Pameran Lukisan Nasional di The Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat yang bertajuk Pohon untuk Kehidupan, Sabtu 10 Januari 2026.
Daya tarik yang mendorong “swarming” bisa berasal dari berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan dan aktivitas berkarya. Dalam konteks tersebut, Kota Bandung sejak awal memang dibangun sebagai pusat pergerakan.
“Bandung sejak lahirnya memang dirancang sebagai kota perlintasan dan pertemuan. Kota ini tumbuh di atas jalur strategis yang menghubungkan berbagai wilayah sehingga sejak awal menjadi magnet pergerakan manusia,” kata Farhan.
Ia menjelaskan, berdirinya Kota Bandung pada 1810 tidak terlepas dari jalur jalan pos atau postweg yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Namun, jalur tersebut tidak sepenuhnya berada di pesisir utara, melainkan berbelok ke selatan melalui Bogor, Cianjur, hingga Bandung, sebelum kembali ke utara menuju Sumedang dan Cirebon.
Jalur inilah yang kemudian membentuk poros utama Kota Bandung, yang kini dikenal membentang dari Cibeureum, Jalan Sudirman, Asia Afrika, Ahmad Yani, hingga Ujungberung dan Cibiru. Tak heran jika titik nol kilometer Kota Bandung berada di kawasan Jalan Asia Afrika.
Farhan juga mengulas lanskap Kota Bandung yang unik, dengan wilayah utara berupa pegunungan dari Bukit Lagadar hingga Gunung Manglayang serta kawasan selatan yang berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan dan aktivitas sosial. Rel kereta api dari Padalarang hingga Cicalengka bahkan menjadi penanda pemisah historis antara Bandung utara dan selatan.
“Lanskap inilah yang membentuk karakter Bandung. Kota ini tumbuh di tengah pertemuan alam, sejarah, dan pergerakan manusia,” ungkapnya.
Lebih jauh, Farhan menuturkan, Bandung menjadi kota “swarming” bukan hanya untuk tinggal, tetapi untuk berkarya. Hal itu dibuktikan dengan hadirnya perguruan tinggi teknologi pertama di Indonesia di Kota Bandung, yang pada saat bersamaan juga melahirkan institusi pendidikan seni rupa terbaik di Tanah Air.
Di hadapan para seniman dan pengunjung pameran, Farhan mengungkapkan, pentingnya keseimbangan antara teknologi dan kesenian. Menurutnya, kemajuan teknologi tanpa sentuhan seni akan menjadikan manusia kehilangan rasa, sementara seni tanpa dukungan teknologi akan membuat manusia tertinggal oleh zaman.
“Berteknologi tanpa berkesenian kita akan menjadi mesin tanpa perasaan. Tapi berkesenian tanpa teknologi kita bisa tertinggal jauh. Bandung mengajarkan kita bahwa keduanya harus berjalan beriringan, tutup Farhan. (Abdi)

