Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    INFOTIPIKORINFOTIPIKOR
    • Beranda
    • REDAKSI
    • TNI – POLRI
    • Ragam & Olah Raga
    • Daerah
    • Sosial & Budaya
    • Nasional
    • Ekonomi & Bisnis
    • Pendidikan
    • Kriminal
    • Politik & Hukum
    • Iklan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    INFOTIPIKORINFOTIPIKOR
    Home»Daerah»Alun-alun Bandung Bakal Ditata Jadi Kawasan Sejarah Terpadu dengan Konsep UNESCO
    Daerah

    Alun-alun Bandung Bakal Ditata Jadi Kawasan Sejarah Terpadu dengan Konsep UNESCO

    By RedaksiOktober 7, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai merancang penataan kawasan Alun-alun dan sekitarnya menjadi kawasan bersejarah yang terintegrasi. Langkah ini dilakukan melalui penerapan konsep Historic Urban Landscape (HUL) yang direkomendasikan oleh UNESCO untuk mengelola warisan kota secara holistik.

    Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa selama ini penataan kawasan bersejarah di Bandung masih berjalan secara terpisah-pisah antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga pemilik bangunan. Akibatnya, potensi keindahan dan nilai sejarah belum terkelola sebagai satu kesatuan ekosistem.

    “Selama ini pemerintah jalan sendiri, swasta jalan sendiri, komunitas jalan sendiri. Akibatnya, keindahan-keindahan itu tidak terintegrasi sebagai sebuah kawasan,” kata Farhan di Hotel Savoy Homan, Selasa (6/10/2026).

    Melibatkan Empat Pilar Utama

    Menurut Farhan, konsep HUL akan menjadi dasar untuk menyatukan berbagai kepentingan tersebut dengan melibatkan empat unsur utama: akademisi, komunitas, pemerintah, dan pelaku bisnis. Proses perumusan konsep yang matang ditargetkan selesai pada tahun 2027.

    “Tidak mungkin dalam waktu singkat semuanya bisa selesai. Harus dibuat dasarnya dulu. Kalau tidak ada dasar, tumbuhnya tidak akan tumbuh bersama tetapi tumbuh sendiri-sendiri,” ujarnya.

    Baca Juga:  Gerak Cepat Partai NasDem, Salurkan Air Bersih ke Kelurahan Leok 1 di Tengah Krisis Kemarau

    Untuk tahap awal, fokus penataan membentang dari Simpang Lima hingga Jalan Otista. Sejumlah ruas jalan ikonik yang masuk dalam kawasan ini meliputi Jalan Lembong, Jalan Braga, Jalan Cikapundung, Jalan Banceuy, Jalan Dalem Kaum, Jalan Otista, dan Jalan Alkatiri.

    Farhan menekankan bahwa penataan bukan sekadar mempercantik wajah kota, tetapi juga menentukan strategi pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan bangunan bersejarah. “Konsepnya sedang dirumuskan bersama. Apa yang mau dipertahankan, apa yang mau dibongkar itu harus jelas,” ucapnya.

    Tantangan Regulasi dan Bangunan di Atas Sungai

    Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keberadaan bangunan bernilai sejarah yang berbenturan dengan regulasi tata ruang. Farhan mencontohkan bangunan food court di Jalan Asia Afrika yang berdiri di atas aliran Sungai Cikapundung. Di satu sisi, bangunan tersebut memiliki status sebagai objek diduga cagar budaya, namun di sisi lain terdapat larangan pembangunan di atas badan sungai.

    Baca Juga:  Wujud Nyata Visi Indramayu REANG, SDN 5 Dadap Dapat Revitalisasi Rp1,7 Miliar dari APBN

    “Ini kan perlu diperdebatkan dengan baik agar solusi yang diambil tidak merusak nilai sejarah maupun aturan lingkungan,” katanya.

    Meski proses perumusan konsep masih berlangsung, aktivitas di kawasan tersebut tetap berjalan normal. Pemkot memastikan pemeliharaan jalan dan pembangunan infrastruktur transportasi, termasuk Bus Rapid Transit (BRT), tetap dilakukan tanpa mengganggu situs-situs bersejarah.

    Alun-alun Sebagai Pusat Lanskap Sejarah

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bandung, Anton Sunarwibowo, menambahkan bahwa dalam konsep HUL, Alun-alun tidak berdiri sendiri. Kawasan ini akan dihubungkan dengan sejumlah ruang publik dan bangunan penting lainnya.

    “Alun-alun ditempatkan sebagai pusat lanskap sejarah Kota Bandung yang terhubung dengan Masjid Raya, Pendopo, Jalan Asia Afrika, Gedung Merdeka, Sungai Cikapundung, Pasar Baru, serta kawasan perdagangan di sekitarnya,” ujar Anton.

    Dengan pendekatan ini, diharapkan Kota Bandung dapat mempertahankan identitas sejarahnya sambil tetap berkembang sebagai kota modern yang dinamis dan inklusif. (Indra Jaya)

    Post Views: 14
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Redaksi
    • Website

    Berani Karena Benar Tertutup Karena Salah

    Related Posts

    Turunkan Kabel Udara di Astanaanyar, Total 63 Ruas Jalan di Bandung Telah Tertata

    Oktober 6, 2026

    Dari Istana ke Kejari, Laporan Dugaan Penyimpangan DBHP Purwakarta 10 Tahun Kini Ditindaklanjuti Kejaksaan

    Oktober 6, 2026

    Dugaan Pengkondisian di Paket Rehab Rujab Ketua DPRD Bombana, Penyedia Jasa Diduga Tidak Punya SBU BG001

    Oktober 6, 2026

    Comments are closed.

    Berita Terbaru

    Alun-alun Bandung Bakal Ditata Jadi Kawasan Sejarah Terpadu dengan Konsep UNESCO

    Oktober 7, 2026

    Air Sungai Cilamaya Hitam dan Berbusa, Polsek Campaka Turun Langsung Cek Lokasi

    Oktober 6, 2026

    Turunkan Kabel Udara di Astanaanyar, Total 63 Ruas Jalan di Bandung Telah Tertata

    Oktober 6, 2026

    Dari Istana ke Kejari, Laporan Dugaan Penyimpangan DBHP Purwakarta 10 Tahun Kini Ditindaklanjuti Kejaksaan

    Oktober 6, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • REDAKSI
    • TNI – POLRI
    • Ragam & Olah Raga
    • Daerah
    • Sosial & Budaya
    • Nasional
    • Ekonomi & Bisnis
    • Pendidikan
    • Kriminal
    • Politik & Hukum
    • Iklan
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.