JAKARTA – Organisasi Pers Media Independen Online (MIO) Indonesia dan Pengurus Besar Forum Ulama dan Aktivis Islam (PB FORMULA) resmi membangun sinergi strategis. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kontribusi media dan organisasi kemasyarakatan dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan, mulai dari penguatan literasi hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan silaturahmi antara jajaran pimpinan kedua organisasi di Kantor PB FORMULA, Jalan Jatinegara Barat No. 144, Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Rabu (1/7/2026). Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, di mana kedua organisasi yang memiliki jaringan luas di puluhan provinsi sepakat membangun kemitraan berbasis prinsip simbiosis mutualisme.
Delegasi PB FORMULA dipimpin langsung oleh Ketua Umum Tuan Guru Drs. Dedi Hermanto, didampingi Wakil Sekretaris Jenderal Ustaz Romdoni, Panglima Detasemen Jaga Ulama (DENJALU) Ustaz Muhammad Nico, serta jajaran pengurus DENJALU lainnya. Sementara dari pihak MIO Indonesia hadir Ketua Umum AYS Prayogie, S.H., Wakil Ketua Umum A. Bahrul, B.D., Ketua Komisi Etik Arthur Noija, S.E., S.H., serta sejumlah pengurus pusat dan perwakilan daerah.
Visi “Satu Juta Ustaz Entrepreneur”
Dalam sambutannya, Ketua Umum PB FORMULA, Dedi Hermanto, memaparkan perjalanan organisasi sejak berdiri pada 2018 hingga kini berkembang menjadi jaringan nasional. Ia menekankan bahwa PB FORMULA tidak hanya berfokus pada aspek dakwah, tetapi juga mendorong pemberdayaan umat melalui penguatan ekonomi.
“Salah satu agenda besar kami ke depan adalah melahirkan sejuta ustaz entrepreneur. Ini upaya menciptakan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kapasitas keagamaan, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi serta menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat,” jelas Dedi Hermanto.
Media sebagai Pilar Demokrasi dan Pembangunan
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum MIO Indonesia, AYS Prayogie, menjelaskan bahwa MIO Indonesia mewadahi perusahaan-perusahaan media berbasis digital dari berbagai daerah. Menurutnya, media memiliki posisi strategis sebagai pilar demokrasi sekaligus mitra pembangunan.

“Kolaborasi dengan elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, menjadi langkah penting dalam memperkuat literasi publik, menjaga kualitas informasi, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional,” ujar Prayogie. Ia menegaskan kesiapan MIO Indonesia untuk menjadi mitra strategis dalam program-program yang memberikan manfaat nyata bagi bangsa.
Menjawab Tantangan Dunia Pers
Dalam diskusi tersebut, Ketua Komisi Etik MIO Indonesia, Arthur Noija, menyoroti tantangan serius yang dihadapi dunia pers, khususnya fenomena kriminalisasi terhadap jurnalis. Ia mencatat banyak sengketa pemberitaan yang semestinya diselesaikan melalui mekanisme Undang-Undang Pers, namun justru berujung pada proses pidana.
Arthur menegaskan pentingnya insan pers memahami aspek hukum dan kode etik, serta memanfaatkan mekanisme Dewan Pers. Di sisi lain, aparat penegak hukum dan masyarakat juga perlu memahami kedudukan pers sebagai institusi yang dilindungi undang-undang dalam menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MIO Indonesia, A. Bahrul, memaparkan rencana pembentukan lembaga otonom pendidikan kewartawanan di bawah naungan MIO Indonesia. Lembaga ini bertujuan mencetak wartawan yang profesional, berintegritas, melek teknologi digital, dan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat di tengah derasnya arus informasi era digital.
Agenda Nasional Bersama
Kedua organisasi juga menyelaraskan agenda nasional mereka sebagai ruang implementasi kerja sama:
* PB FORMULA akan menggelar Simposium Nasional bertajuk “Solusi untuk Bangsa” pada Oktober 2026.
* MIO Indonesia akan menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III yang dirangkaikan dengan Dialog Kebangsaan pada November 2026, dengan tema “Peranan Media dalam Mensukseskan Program Ketahanan Pangan, Rumah Subsidi, dan UMKM Naik Kelas.”
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk merealisasikan program kolaboratif di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat, penguatan literasi, serta pembangunan karakter kebangsaan, sebelum diakhiri dengan sesi foto bersama. (Redaksi)
Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia

