Menu

Mode Gelap
Polres Purwakarta,Raih Penghargaan Peringkat Pertama IKPA Dari KPPN Purwakarta Keren,Anak Anggota Satpolairud Polres Purwakarta Sabet 9 Medali di West Java Swimming Competition 2022 Polisi Di Purwakarta,Amankan Dua Dari Lima Pelaku Pengeroyokan Seorang Pemuda Warga Munjul Jaya Polsek Purwakarta Kota,Intensif Lakukan Patroli Blue Light Guna Berikan Rasa Aman dan Nyaman Di Masyarakat Guna Wujudkan Wilayah Aman dan Kondusif,Jajaran Polsek Pasawahan Intensif Gelar KRYD

Sosial & Budaya · 11 Jan 2023 10:42 WIB ·

Kongkow Budaya ke 5 Mengupas Peranan Toa Sebio Dalam Sejarah


 Kongkow Budaya ke 5 Mengupas Peranan Toa Sebio Dalam Sejarah Perbesar

Budaya Oleh : (Tjhin Tju San),  Infotipikor.com – Kelenteng Toasebio sudah berdiri sejak dibangun kembali pada 1751,dan saat ini sudah berusia 271 tahun.

Kongkow Budaya yang dihadiri para tamu undangan dari berbagai kalangan ini, menjadikan momentum untuk menambah silaturahmi dan sosialisasi tentang sejarah Toa Sebio.

Pada kesempatan itu, Wibowo Prasetyo menyampaikan apresiasi atas upaya Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio, membangun prasasti sebagai wujud bakti kepada para pendahulu.

Serta sebagai edukasi kepada generasi penerus saat ini untuk dapat mengingat jasa dan budi baik yang dilakukan oleh para sesepuh pada masa sebelumnya, sekaligus memberikan penghormatan kepada para pendiri yayasan atas dedikasinya selama ini.

Vihara ini didirikan Sembilan orang, yakni Ferdinand Kencana Jaya, Husin Buntara Sjarifudin, Husen Buntara Sjarifudin, Agustinawati, Rachman Santosa, Lauw Kiong Hoa, Wong Sem Fie, Harjanto, dan Mujadin Pangestu.

Aroma asap hio tercium hingga ke sudut ruangan.Doa-doa dipanjatkan para pengunjung di setiap altar untuk Dewa-Dewi.

Terdapat 18 altar di wihara ini dengan masing-masing fungsi yang berbeda. Angka 1 hingga 18 pun telah dituliskan disetiap altar,guna mempermudah pengunjung. Tampak seorang pria lanjut usia kembali berdo’a dengan khusyu setelah sedikit tertatih berpindah ke altar nomor 8.

Bangunan dengan luas 1.324 meter persegi ini awalnya dimiliki oleh seorang tuan tanah dengan marga Tan, kemudian dihibahkan ke Yayasan Dharma Jaya Toasebio setelah turunan ke Empat. Dengan jumlah pengurus 38 orang.

Wihara ini ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Melekat di dalamnya tragedi Angke yang merupakan pembantaian kolonial Belanda terhadap etnis Tionghoa,dan aksi pembakaran massal pada tahun 1740 silam.

(Redaksi)

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

UIN SGD Bandung,Salurkan Bantuan Alat Belajar Kepada Anak-Anak Korban Bencana Gempa Bumi Cianjur

20 Januari 2023 - 05:35 WIB

Pembangunan Majelis Taklim Al-Hidayah Daarul Iman Altati Mulyati,Dimulai Presiden RBH 

11 Januari 2023 - 15:29 WIB

Rudi Center Bersama Ketua DPRD Bangka Iskandar,S.IP, Bantu Bedah Rumah Warga Tak Mampu

7 Januari 2023 - 21:01 WIB

Pemdes Cibogohilir,Salurkan BLT Dana Desa Tahap 4

24 Desember 2022 - 16:44 WIB

Sanggar Tari Bunda Chila,Mengadakan Silaturahmi Serta Evaluasi Sanggar Tari Lomba Jaipong dan Rampak

18 Desember 2022 - 18:30 WIB

Kalapas Kelas IIA Karawang Bersama Dharmawanita,Giat Sosial Gempa Bumi Cianjur

5 Desember 2022 - 22:13 WIB

Trending di Sosial & Budaya