Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    INFOTIPIKORINFOTIPIKOR
    • Beranda
    • REDAKSI
    • TNI – POLRI
    • Ragam & Olah Raga
    • Daerah
    • Sosial & Budaya
    • Nasional
    • Ekonomi & Bisnis
    • Pendidikan
    • Kriminal
    • Politik & Hukum
    • Iklan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    INFOTIPIKORINFOTIPIKOR
    Home»Daerah»ITB Terapkan Nilai Kearifan Lokal “Marsialapari” dan “Marsiurupan” untuk Pemulihan Pascabencana di Tanjung Pura, Sumut
    Daerah

    ITB Terapkan Nilai Kearifan Lokal “Marsialapari” dan “Marsiurupan” untuk Pemulihan Pascabencana di Tanjung Pura, Sumut

    By RedaksiAgustus 6, 2026Updated:Agustus 6, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    LANGKAT – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menghadirkan pendekatan inovatif dalam penanganan pascabencana. Kali ini, tim pengabdian masyarakat ITB melaksanakan program kolaboratif di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 5—6 Agustus 2026. Kegiatan ini berfokus pada penerapan nilai kearifan lokal sebagai landasan utama pemulihan psikososial dan teknis bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat.

    Langkah ini merupakan respons terhadap dampak bencana alam besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada November 2025 lalu. Bencana tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga trauma mendalam bagi masyarakat. Tim ITB menilai bahwa pemulihan trauma harus dilakukan dengan pendekatan yang mempertimbangkan budaya akar rumput, mengingat kehidupan masyarakat Sumatera Utara tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai tradisi yang sudah mengakar.

    Mengangkat Tradisi Gotong Royong: Marsialapari dan Marsiurupan

    Tim pengabdian yang terdiri atas Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., R.R. Sri Wachyuni, M.Psi., Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C., S.T., M.B.A., menggali kekuatan budaya lokal sebagai modal sosial untuk resilensi bencana.

    Baca Juga:  Desa Baturata dan Kwala Besar Sepakati Penutupan Akses Jalan Menuju Tambang Diduga Ilegal di Buol

    Dua tradisi utama yang diangkat adalah Marsialapari dari Tapanuli Selatan dan Marsiurupan dari Batak Toba (berakar pada filosofi Dalihan Na Tobu). Kedua tradisi ini menekankan semangat perjuangan, persatuan, gotong royong, dan saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan bersama.

    “Budaya memiliki fungsi untuk memperkuat identitas masyarakat dan menjadi sumber pengetahuan tentang bencana alam. Dengan mengaktifkan nilai-nilai seperti Marsialapari dan Marsiurupan, kita memperkuat keterikatan sosial masyarakat dalam menghadapi situasi pascabencana,” ujar perwakilan tim ITB.

    Pentingnya Diksi dan Komunikasi Empatik

    Selain aspek sosial, tim ITB juga memberikan pelatihan khusus mengenai komunikasi krisis kepada para petugas OPD. Dr. Dana Waskita dan Dr. Tri Sulistyaningtyas menekankan pentingnya penggunaan kata atau diksi yang tepat saat memberikan arahan pemulihan kepada penyintas.

    Penggunaan bahasa yang terlalu teoretis, tinggi, atau rumit dinilai dapat menyulitkan penyintas yang sedang dalam kondisi traumatis untuk memahami langkah-langkah pemulihan. Sebaliknya, pendekatan bahasa yang empatik dan sesuai dengan konteks budaya setempat memudahkan korban untuk menerima bantuan dan kembali menjalani rutinitas sehari-hari.

    Baca Juga:  Tagar #MenujuBuolRuntuh Menggema, Masyarakat Soroti Defisit APBD dan Tunggakan Hak Aparatur di Buol

    Intervensi Terpadu Berbasis Psikologi dan Budaya

    Kegiatan ini menerapkan metode intervensi terpadu yang dimulai dengan studi lapangan dan observasi partisipatif untuk memetakan permasalahan. Hasil pemetaan kemudian didiskusikan dalam Focus Group Discussion (FGD) dan dilanjutkan dengan pelatihan psikologis (psychological method) melalui training, konseling, coaching, simulasi, dan gaming.

    Tujuan akhirnya adalah membangun kapasitas OPD yang adaptif, tanggap, dan tangguh. Dengan menggabungkan ilmu psikologi modern dan kearifan lokal, ITB berharap model penanganan pascabencana ini dapat diaplikasikan secara mandiri dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah, sehingga pelayanan publik di masa tanggap darurat hingga pemulihan dapat berjalan lebih efektif dan manusiawi.

    (Adi Supriadi)

    Post Views: 18
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Redaksi
    • Website

    Berani Karena Benar Tertutup Karena Salah

    Related Posts

    Edwin Senjaya Dorong Budaya Belajar Sepanjang Hayat Lewat Program Pendidikan Kesetaraan di Bandung

    Agustus 6, 2026

    Tender Rehab Kantor DPRD Kutai Barat Dipertanyakan, Pemenang Diduga Pakai SBU BG009 Padahal Seharusnya BG002

    Agustus 6, 2026

    Dugaan Pembangunan Pabrik Garmen Tanpa Izin di Cikumpay, Media Temukan Aktivitas Pengeboran Sumur dan Ketidakjelasan Identitas Pemilik

    Agustus 6, 2026

    Comments are closed.

    Berita Terbaru

    Edwin Senjaya Dorong Budaya Belajar Sepanjang Hayat Lewat Program Pendidikan Kesetaraan di Bandung

    Agustus 6, 2026

    ITB Terapkan Nilai Kearifan Lokal “Marsialapari” dan “Marsiurupan” untuk Pemulihan Pascabencana di Tanjung Pura, Sumut

    Agustus 6, 2026

    Tender Rehab Kantor DPRD Kutai Barat Dipertanyakan, Pemenang Diduga Pakai SBU BG009 Padahal Seharusnya BG002

    Agustus 6, 2026

    Dugaan Pembangunan Pabrik Garmen Tanpa Izin di Cikumpay, Media Temukan Aktivitas Pengeboran Sumur dan Ketidakjelasan Identitas Pemilik

    Agustus 6, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • REDAKSI
    • TNI – POLRI
    • Ragam & Olah Raga
    • Daerah
    • Sosial & Budaya
    • Nasional
    • Ekonomi & Bisnis
    • Pendidikan
    • Kriminal
    • Politik & Hukum
    • Iklan
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.