INFOTIPIKOR.COM | SLEMAN – Menjelang datangnya bulan suci ramadhan 1447 Hijriah, Majelis Makrifatullah mengajak umat Islam untuk melakukan refleksi diri dan memurnikan kembali niat dalam beribadah.
Ramadhan ditegaskan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum besar untuk memperbaiki kualitas spiritual dan memperkuat keimanan.
Pengajian pekanan tersebut digelar di Pondok Pesantren Makrifatullah Yayasan Kiwari, Dusun Banaran RT 02 RW 31, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, Yogyakarta, Ahad (15/2/2026).
Jamaah hadir dari berbagai wilayah, di antaranya Sragan, Banaran, dan Pakelan, dengan penuh antusias menyambut bulan penuh berkah.
Pengasuh majelis,
Kyai Haji Habibullah, dalam tausiyahnya menekankan pentingnya menjaga kemurnian ibadah agar tidak tercampur dengan kepentingan duniawi. Menurutnya, ibadah harus dilandasi keikhlasan dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT.
“Ramadhan adalah momentum kembali membersihkan hati. Jangan sampai ibadah kehilangan maknanya, karena lebih menonjolkan aspek seremonial daripada substansi,” ujarnya di hadapan jamaah.
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Dalam kesempatan tersebut, Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai Hudan (petunjuk hidup) dan Furqan (pembeda antara yang hak dan batil), sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.

Al-Qur’an menjadi pedoman menyeluruh dalam mengatur kehidupan, baik dalam aspek akidah, ibadah, sosial, maupun akhlak.
Agar Al-Qur’an benar-benar berfungsi dalam kehidupan, umat Islam diajak untuk membacanya dengan benar (tilawah), memahami maknanya secara mendalam (tadabbur), serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadhan bulan penuh kemuliaan,
ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia (hudan linnas) dan pembeda (wal furqan). Bulan ini menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, serta memohon ampunan kepada Allah SWT.
Dalam Islam juga dikenal empat bulan mulia, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, yang sejak masa lampau dimuliakan. Namun, Ramadhan memiliki kedudukan istimewa sebagai bulan diwajibkannya ibadah puasa dan diturunkannya wahyu Ilahi.
Penentuan awal ramadhan
disampaikan pula bahwa penentuan 1 ramadhan dilakukan melalui metode rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) dan hisab (perhitungan astronomi). Di Indonesia, penetapan awal ramadhan dilakukan melalui sidang isbat yang memadukan hasil rukyat dan data hisab.
Do’a dan harapan
pengajian ditutup dengan do’a bersama agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa, serta meraih husnul khatimah.
Majelis Makrifatullah berharap ramadhan 1447 H menjadi titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan bertakwa.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesadaran spiritual masyarakat agar Ramadhan tidak hanya dirayakan secara lahiriah, tetapi juga dihayati secara mendalam sebagai sarana transformasi diri. (Ari Wu)

