SLEMAN – Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah membangun mimpi besar untuk membawa perfilman lokal ke panggung dunia. Tidak lagi sekadar viewed sebagai ruang berkarya seni, perfilman di Sleman kini diposisikan sebagai kekuatan ekonomi kreatif strategis yang diharapkan mampu melahirkan talenta, membuka lapangan kerja, menarik investasi, serta mengangkat nama daerah di kancah internasional.
Komitmen ini disampaikan secara resmi dalam jumpa pers bertema “Sleman Menuju Jaringan Kota Film UNESCO” pada Jumat (22/8/2026). Acara tersebut mempertemukan Pemerintah Kabupaten Sleman dengan para pelaku industri, akademisi, komunitas film, dan insan media.
Menargetkan UNESCO Creative Cities Network
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Eddy Winarya, S.Sn., M.M., mengungkapkan bahwa Sleman telah lolos tahap pertama seleksi nasional dan masuk dalam enam kabupaten/kota yang mengikuti seleksi lanjutan pengusulan nominasi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Film tahun 2027.
“Di tahap kedua akan dipilih empat kandidat, kemudian tahap ketiga dipilih dua untuk selanjutnya diusulkan ke UNESCO,” jelas Eddy.
Menurutnya, Sleman memiliki modal ekosistem yang kuat, didukung oleh keberadaan studio film dan animasi, rumah produksi, komunitas aktif, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, hingga media lokal. Hal ini sejalan dengan deklarasi Sleman sebagai Kabupaten Kreatif pada 2023, dengan subsektor Film, Animasi, dan Video sebagai fokus utama.
Film sebagai Penggerak Ekonomi dan Kesejahteraan
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, S.E., M.M., menegaskan bahwa pengembangan perfilman tidak boleh berhenti pada prestise atau pengakuan internasional semata. Film harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Film harus menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif Sleman. Industri ini diharapkan menjadi pintu bagi generasi muda untuk mendapatkan pekerjaan, membangun usaha, dan mengembangkan kreativitas,” ujar Bupati Harda.
Pemerintah daerah mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan pertumbuhan industri yang inklusif dan berkelanjutan.
Siapkan 500 Talenta Muda
Kunci dari kesuksesan visi ini adalah sumber daya manusia. Prof. Dr. Mohammad Suyanto, M.M., tokoh perfilman dan akademisi dari Universitas AMIKOM, menyampaikan gagasan strategis untuk menyiapkan sekitar 500 talenta muda Sleman melalui pendidikan dan pelatihan intensif di bidang film, animasi, dan live action.
Program ini bertujuan menciptakan regenerasi sineas profesional dan mengubah posisi anak muda dari sekadar penonton menjadi pelaku utama industri. Penguatan kelembagaan juga dilakukan melalui pembentukan Komisi Perfilman sebagai wadah koordinasi para profesional.
Menembus Pasar Internasional
Ambisi Sleman tidak berhenti di tingkat lokal. Beberapa karya lokal mulai dikembangkan dengan melibatkan profesional internasional, salah satunya melalui proyek animasi “Aji Saka: The King, The Flower of Life”. Keterlibatan pihak internasional ini menjadi sinyal bahwa talenta Sleman mampu bersaing dengan standar global.
“Intinya, jika kita bisa mengekspor film dan menarik investasi dari Hollywood, maka semakin banyak anak-anak di Sleman yang akan terserap dalam industri ini,” ungkap salah satu narasumber dalam acara tersebut.
Untuk menopang hal tersebut, Pemkab Sleman terus memperkuat infrastruktur melalui Sleman Creative Space dan pengembangan Taman Budaya Sleman sebagai ruang ekspresi dan produksi gagasan.
Dengan kombinasi talenta terampil, ekosistem yang mendukung, dan akses pasar global, Sleman ingin membuktikan bahwa dari daerah dapat lahir karya besar yang mampu bersaing di panggung dunia. (Ari Wu)

