Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    INFOTIPIKORINFOTIPIKOR
    • Beranda
    • REDAKSI
    • TNI – POLRI
    • Ragam & Olah Raga
    • Daerah
    • Sosial & Budaya
    • Nasional
    • Ekonomi & Bisnis
    • Pendidikan
    • Kriminal
    • Politik & Hukum
    • Iklan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    INFOTIPIKORINFOTIPIKOR
    Home»Ekonomi & Bisnis»ITB Beri Pelatihan Serat Nanas: Dari Sampah Terabaikan menjadi Peluang Ekonomi Kreatif di Kabupaten Ketapang
    Ekonomi & Bisnis

    ITB Beri Pelatihan Serat Nanas: Dari Sampah Terabaikan menjadi Peluang Ekonomi Kreatif di Kabupaten Ketapang

    By RedaksiJanuari 29, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    INFOTIPIKOR.COM | KETAPANG – Tim Pengabdian Masyarakat ITB hadir di Ketapang, Kalimantan Barat, untuk menunjukkan ekonomi dapat tumbuh dari sampah yang terabaikan, yakni daun nanas yang diambil seratnya.

    Pengambilan serat nanas dapat dipraktikkan oleh warga masyarakat setempat dalam keseharian mereka,  untuk menciptakan produk ramah lingkungan yang mendukung produk berkelanjutan (SDGs). Pada program pengabdian ini, para pakar menyampaikan edukasi konsep eco design keberlanjutan dalam memproduksi kerajinan tangan.

    Daun nanas merupakan bagian yang biasa dibuang begitu saja. Padahal, daun tersebut dapat diolah menjadi serat yang bernilai ekonomi. Serat nanas yang sudah diubah menjadi serat halus untuk bahan dasar produk kerajinan tangan akan bernilai lebih tinggi dibandingkan hanya dibuang dan menjadi limbah pertanian.

    Sayangnya, belum banyak yang mengetahui potensi ini, termasuk para petani di Kabupaten Ketapang. Selama ini, daun nanas dibuang, dibakar, atau dibiarkan membusuk, tanpa pernah diposisikan sebagai bahan baku industri kreatif.

    Salah satu peserta pelatihan yang merupakan perajin kayu menyampaikan, saat ini ekosistem sudah mulai rusak dan daun-daun seringkali dibuang atau dibakar tanpa tahu bahwa tanaman tersebut bermanfaat untuk bahan dasar kerajinan.

    Mengusung judul “Penguatan Literasi Budaya Kreatif melalui Identifikasi Nilai dan Potensi Pemanfaatan Serat Nanas di Ketapang: Implikasinya pada Peningkatan Ekonomi Kreatif UMKM Berkelanjutan”, masyarakat mendapatkan pelatihan pengolahan serat nanas pada 27 – 28 Januari 2026.

    Baca Juga:  Usai Peresmian SPPG Cikumpay  Campaka #002, Warga Pertanyakan Rekrutmen Relawan 

    Tim program pengabdian masyarakat diketuai oleh Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., dengan tim yang terdiri atas Yani Suryani, M.Hum., Adi Supriadi, M.M., Evi Azizah Febriyanti, M.Hum., dan Sira Kamila Dewanti Amalia, M. Hum. Para pakar kriya ikut serta dalam penelitian ini, adalah Dr. Dian Widiawati, M.Sn. dari KK Kriya dan Tradisi, FSRD ITB dan Prof. Dr. Husen Hendriyana, S.Sn., M.Ds., dari FSRD ISBI Bandung.

    Program ini juga dihadiri oleh Perwakilan Desa dan Perwakilan Kabupaten Ketapang yang turut mendukung pelatihan bagi pengembangan UMKM. Desa yang terlibat dalam pelatihan ini di antaranya Desa Sungai Bakau, Desa Sungai Besar, Desa Pelang, Desa Baru, Desa Kali Nilam, Desa Sungai Melayu, dan Desa Pesaguan Kanan. Kecamatan yang terlibat, yaitu Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Delta Pawan, Kecamatan Melayu Raya, dan Kecamatan Benua Kayong.

    Pada program ini, masyarakat diajarkan untuk mengurai serat daun nanas yang dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu cara manual dan penggunaan mesin dekotikator. Secara manual, serat dapat diperoleh melalui teknik pengerokan (scraping) dan proses retting atau pembusukan terkontrol.

    Pada program ini, masyarakat Ketapang diajarkan mendapatkan serat daun nanas dengan teknik pengerokan. Teknik pengerokan dilakukan untuk menguraikan daun. Setelah terurai, daun akan direndam semalaman hingga berubah menjadi putih. Serat daun nanas yang sudah berubah menjadi putih dapat diolah menjadi berbagai kerajinan, seperti sandal, topi, tas, kain tenun, dan lampu.

    Baca Juga:  KADIN Sulteng Butuh Figur"Integrated" dan Memiliki Core Business

    Materi yang disampaikan mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya literasi budaya dan kreativitas dalam memproduksi kerajinan tangan. Tanpa literasi budaya dan kreativitas, produk yang dihasilkan akan monoton dan tidak dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional.

    Pendampingan di Ketapang menunjukkan tantangan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada ketiadaan pengetahuan yang menghubungkan produk dan pasar. Ketika masyarakat memahami karakter nanas, teknik pengolahan nanas, serta potensi produk hasil serat nanas, masyarakat Ketapang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu jenis komoditas atau satu jenis kerajinan. Masyarakat mulai memiliki pilihan.

    Keberadaan daun nanas yang dapat diolah menjadi serat telah menawarkan sesuatu yang lebih substansial kepada masyarakat, yakni pemahaman bahwa masyarakat Ketapang dapat menjadi produsen kerajinan tangan bernilai budaya, bukan sekadar pemasok bahan mentah atau menyisakan limbah pertanian.

    Oleh karena itu, limbah dan sampah tidak lagi dilihat sebagai beban. Limbah berubah menjadi bahan baku pengetahuan, kreativitas, dan masa depan ekonomi di Kabupaten Ketapang. (Adi Supriadi)

    Post Views: 148
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Redaksi
    • Website

    Berani Karena Benar Tertutup Karena Salah

    Related Posts

    Usai Peresmian SPPG Cikumpay  Campaka #002, Warga Pertanyakan Rekrutmen Relawan 

    Februari 17, 2026

    KADIN Sulteng Butuh Figur”Integrated” dan Memiliki Core Business

    Februari 14, 2026

    Dorong Perekonomian Daerah, Bank Sleman Undi Tabungan Mutiara dan Launching Aplikasi e-Kalurahan

    Januari 7, 2026

    Comments are closed.

    Berita Terbaru

    Aksi Peduli Lingkungan, Satpolairud Polres Purwakarta Lakukan Aksi Bersih-Bersih Sampah di Waduk Jatiluhur

    Februari 18, 2026

    Tekan Biaya Perawatan Mobil Dinas Tua, Pemda Buol Alokasikan Biaya Sewa Kontrak 32 Unit Kendaraan Dinas

    Februari 18, 2026

    Bakti Sosial Edukasi dan Pelatihan: Jadikan Air Hujan sebagai Berkah dalam Kehidupanmu

    Februari 18, 2026

    Jelang Ramadhan 1447 H, Pemdes Cimahi Kolaborasi bersama MUI Tertibkan Pelaksanaan Ibadah

    Februari 18, 2026
    Kategori
    • Advetorial
    • Daerah
    • Ekonomi & Bisnis
    • Entertainment
    • Film
    • Iklan
    • Internasional
    • Kesehatan
    • Kriminal
    • Musik
    • Nasional
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Politik & Hukum
    • Ragam & Olah Raga
    • Religi
    • Sosial & Budaya
    • TNI – POLRI
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • REDAKSI
    • TNI – POLRI
    • Ragam & Olah Raga
    • Daerah
    • Sosial & Budaya
    • Nasional
    • Ekonomi & Bisnis
    • Pendidikan
    • Kriminal
    • Politik & Hukum
    • Iklan
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.