INFOTIPIKOR.COM | SLEMAN – Pengajian pekanan Majelis Makrifatullah kembali digelar di Pondok Pesantren Makrifatullah Yayasan Kiwari, Masjid Jamilah, Dusun Banaran RT 02 RW 31, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (4/1/2026).
Dalam tausiyahnya, Kyai Haji Habibullah mengajak jamaah untuk bersyukur di awal tahun 2026 dan tahun Islam 1447 Hijriah karena masih diberikan nikmat iman dan kesehatan. Ia menyinggung kisah Nabi Nuh AS tentang banjir besar selama 40 hari sebagai pengingat akan kekuasaan Allah SWT. Jamaah diajak bersyukur karena wilayah Sleman terhindar dari bencana, sembari mendoakan saudara-saudara di Aceh dan Sumatra yang hingga kini masih terdampak banjir dan tanah longsor.
Kyai Haji Habibullah menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang mendapatkan petunjuk paling lengkap. Oleh karena itu, umat Islam diminta terus meningkatkan rasa syukur dengan memperkuat iman dan amal saleh.
Ia mengingatkan pesan Rasulullah SAW sebelum wafat, di antaranya dua kalimat dzikir yang ringan di lisan namun berat di timbangan, yakni Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azhim, serta pesan agar umat berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah agar tidak tersesat.
Lebih lanjut, ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Mu’minun ayat 1: “Qad aflaḥal-mu’minûn” yang berarti, “Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman.” Ayat tersebut menegaskan bahwa keberuntungan sejati diraih oleh orang beriman yang membuktikannya dengan amal saleh, seperti khusyuk dalam salat, menjauhi perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga amanat, serta memelihara salat.
Menurutnya, iman yang kuat akan melahirkan pribadi yang jujur dan amanah. Ia menyinggung banyaknya kasus korupsi yang terungkap sebagai contoh lemahnya pemahaman tujuan hidup akibat rapuhnya keimanan. Majelis pengajian, menurutnya, menjadi sarana penting untuk memperdalam iman melalui dzikir, tahlil, dan belajar bersama.
Kyai Haji Habibullah juga menekankan pentingnya salat yang khusyuk, dimulai dari niat hingga salam, dengan menghadirkan hati, pikiran, dan bacaan secara fokus. Ia mengajak para orang tua untuk menanamkan kebiasaan ibadah dan dzikir kepada anak-anak agar senantiasa eling marang Gusti Allah.
Pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Kyai Haji Habibullah, diikuti jamaah dengan penuh kekhusyukan, berharap keberkahan dan keselamatan dunia serta akhirat. (Ari Wu)

